CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Saturday, March 14, 2009

Berguru kepada Ali Bin Abu Thalib

Pada suatu hari, terjadi percecokan antara Ali bin Abu Thalib dengan istrinya, Fathimah. Nada keras pun tidak bisa direm dari mulut Fathimah. Melihat istrinya yang sudah naik pitam, Ali diam tidak membalas ucapan istrinya. Dia berusaha keras untuk mengekang kemarahan dan mengendalikan emosinya. Kemudian beliau pergi meninggalkan rumah. Selang beberapa waktu kemudian, ada orang yang mengetuk pintu rumah Fathimah. Setelah dibukakan pintu, ternyata Rasulullah menerobos ke seluruh sudut ruangan, namun beliau tidak menemukan Fathimah menjawab dengan Nada Rendah. Lalu, Nabi meminta tolong kepada sesorang budak untuk mencari Ali dimana dia berada. Tak lama kemudian, sang budak datang dengan membawa kabar bahwa Ali sedang tidur didalam masjid. Kemudian Rasulullah menyusulnya ke Masjid.
Pada pertemuan munggu kemarin telah kita bahas hikmah pertama yang tersirat dalam kisah di atas. Yaitu, Ali bin Abu Thalib dapat mengendalikan emosinya. Dia tidak gampang marah. Karena beliau tahu bahwa kemarahan ibarat api. Jika kemarahan dibalas dengan kemarahan maka seperti luapan api diberi kayu bakar. Dan dengan marah tidak akan menyelesaikan masalah., namun akan menambah masalah. Di samping itu, marah adalah karakternya orang sombong dan orang jahat. Sedangkan tidak mudah marah, ramah, dan pemaaf adalah sifatnya orang yang baik dan berakhlak mulia. Dan, sekarang ini kita akan membahas hikmah lain yang tertoreh di dalam kisah di atas. Pertama, menjadikan masjid sebagai tempat pelipur lara, tempat penyejuk hati, dan sebagai rumah kita yang kedua. Kedua, memilih teman yang berahlak baik.

0 comments:

Al Quran - Surah Ar Rohman

Pengunjungku

web site hit counter